Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

Puisi Setia Naka Andrian (Ideide.id, 21 April 2020)


Sudah Berapa Jam Lalu

Sudah berapa jam lalu,
kau tumbuh di atas punggungku
Kau menikam banyak rindu
Yang ditanam pelan
di antara catatan yang lupa
Ditanam di jalan-jalan
Menuju ketiadaanmu

Sudah berapa jam lalu,
kau telah memilih tak megunjungiku
Kau bilang,
“Sudahlah, jangan cemas
Aku telah tumbang
dalam sekejap waktu
Selepas segalamu tumbuh
di punggungku”

Demikianlah kau,
yang menjadikan kami kikir
Yang membiarkan segenap rakyatmu
terlampau fakir
untuk menentukan segala iman

Masa itu, kau begitu rupa
bergegas berlari
Jika pagi datang
dengan berjingkat begitu tinggi
Jika pagi mendesakmu
agar mengangkat lagi
kedua kaki setinggi-tinggi

Kendal, April 2018


Nama-Nama yang Berlalu

Dalam segala nama mereka
Telah disebutkan nama-namamu
yang berlalu
Doa-doa yang telah lama
tanggal di batu-batu.

Dalam segenap raga mereka
Nama-nama kerap digiring dari segala duka
Setiap pagi menyala, siapa saja melihatmu
Mengapung di sungai-sungai panjang
yang sering memilih berubah pikiran
Untuk menemukan muara yang lengang

Lihatlah, nama-nama baik telah berlalu
Doa-doa dengan napas tinggi
lebih memilih singgah
dan menggantung huruf-huruf vokalnya
Di setiap nada yang mengembang di udara
Saat setiap orang telah bergegas lari
Mendirikan badan lain,
sebelum segalanya tumbang
Menjatuhkan banyak hal di luar segala
yang tak lagi dikehendaki

Dalam segala nama-nama yang berucap
Dan dibiarkan mengembang di udara
Maka bergeletakanlah nama-nama kecilmu
di antara tubuh mereka
Sejauh mata yang telanjang
Sejauh kegagalan tumbang
di sebelah ragamu sendiri

Dan sejak saat itu, segala nama telah berlalu
Tumbang di segala arah
yang urung menunjuk kematian tubuhmu

Kendal, April 2018


Pada Mata yang Tak Lagi Retak

Pada mata yang tak lagi retak,
pada alis yang tak sempat bercabang
Kau telah mengirim kami
Dalam kedatangan yang berulang-ulang
Dan kau diam-diam
telah mengunjungi banyak risau
dalam kegundahan

Pada mata yang tak lagi retak,
Pada segala cahaya yang berlalu-lalang
Meninggalkan diri kita
Di antara segenap hujan
yang gagal menidurkanmu

Pada mata yang tak lagi retak,
Kau kembali kepada kami
Yang tiada pernah tega
Menggerakkan mata sendiri
Kau menatapi kami diam-diam
yang tak kunjung matang

Pada mata yang tak lagi retak,
pada hidung yang mencium sedalam-dalam
Kau berjalan mengunjungi kami
Kau berkata dengan pelan,
“Sudah saatnya kami menenangkan batin
dan ragamu
Yang kerap tanggal di pematang
Yang kerap berlinang
saat terik di dada tak kunjung
melambaikan tangan,”

“Pada mata yang tak lagi retak,
Pada segala yang sedang malas berkemarau
Mereka yang sekian kali menabur hujan
yang tak sempat reda,
memanjakan ketiadaan di setiap gerak luka,”

Pada mata yang tak lagi retak,
Semua memanas, membakar televisi, radio, dan koran
Semua hangus, kecuali bibir-bibir yang berdesakan
menempel di media sosial

Kendal, April 2018


Musim

Musim telah matang
Ia mengejar hujan
yang sering absen datang

Di balik telapak tangannya
yang kapalan,
musim sering menggerutu
menyaksikan banyak hutan panas
yang sering salah jadwal kunjungan
Melupakanmu, melupakan desa
dan kampung halamanmu

Kendal, April 2018


Hari Sudah Pagi

Hari sudah pagi
Sudah saatnya kita bergegas pergi
Sudahlah, tak ada lagi
yang menyegarkan matamu
Semuanya penuh lika-liku,
membakarmu,
Mengumpat segala celamu

Lihatlah di luar,
bala tentara sudah menunggu,
Berbaris pasukan berkuda
Siap mengawal dari segala udara
Dari segala napas
yang kerap mendengkur duluan

Hari sudah pagi,
Kau akan segera diajak pergi
Kepada segala yang memacu jejak
Saat orang-orang masih direkam
Dalam segala cara cepat
Untuk bergegas meruntuhkan

Kendal, April 2018


Bacakan Kepada Kami

Bacakanlah kepada kami
Ribuan angka yang jatuh
di luar kepala

Bacakanlah kepada kami
Jutaan purnama kesembilan
yang tanggal
sebelum menunda akhirnya

Bacakanlah kepada kami
Kepada segala bibir
yang tumbuh di luar suara
Kepada segala umpatan
yang menempel
di dinding-dinding kening
dan dadamu
yang kian hari
kian saling melambaikan tangan

Kendal, April 2018


Bahasa Ingin Lelap Tidur

Bahasa ingin lelap tidur
Ia sudah kangen bertemu ibunya
Dalam tidur,
Dalam mimpi
yang katanya sudah bolong-bolong

Bahasa ingin lelap tidur
Ia sudah lupa rasanya tamasya
Saat mengunjungi ragam warna
dan makna
Yang kian bertebaran, diciptakan
di sembarang dinding kamus-kamusmu
yang terbakar

Bahasa ingin lelap tidur
Ia sudah ingin menjadi sore hari
Ingin bergegas jadi waktu senyap
Yang memilih mengerami
segala kesunyian

Bahasa ingin lelap tidur
Ia merasa sudah cukup tua
untuk mengenang masa muda
yang tanggal berkali-kali di jendela

Bahasa ingin lelap tidur
Ia ingin sowan kepada para leluhurnya
Yang kabarnya, sudah tak lagi tinggal
di jendela-jendala

Kendal, April 2018


Bergegaslah Menyelam

Bergegaslah, Sayang
Bergegaslah menyelam
Dasar laut hampir tutup
Tiketmu tinggal sepenggal angin

Bergegaslah Sayang
Bergegaslah menyelam
Hari sudah hampir lepas,
pantai telah bergerak
meninggalkan segala panas

Lihat, di sana rumahmu
Yang menawarkan segenap keretakan
Bersama doa yang sedang asyik kabur
Ia telah lama menanam diri
Di atas sana, saat kami telah libur panjang
Saat segalanya telah memilih tunai duluan

Kendal, April 2018


Berjalan ke Utara

Kami lah yang berjalan ke utara itu
Kami lah pencari ladang
Yang kerap tak sempat mengaliri diri
Dengan beragam aroma bunga
Atau apa saja,
selain dari napas-napas panjangmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu
Kami lah pejinak pematang
Yang kerap tak kunjung habiskan
cara berupa-rupa
Kami tak tahu, kapan akan menemukan
Segala ubi-ubian, jagung, atau apa saja
Yang leluasa menggerakkan tubuh

Kami lah yang bergegas ke utara itu
Yang berjalan dan tak berani
diam-diam menilai segala ketiadaanmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu
Yang hanya mencoba menembus
Segala lubang sela-sela jari kaki
untuk menghamburkan segala rupa
Untuk selalu tunduk, dan berlutut
Di bawah nama-nama keajaibanmu

Kendal, April 2018


Berat Duka

Sudah berapa berat duka
yang ditumbuhi peluru
Sudah berapa berat suka
Ditumbuhi malu

Kami enggan bertapa lagi
Lereng gunung tak lagi asyik
Untuk menyembunyikan kekalahanmu

Sudah berapa berat duka
yang segalanya telah luput
Memikul doa kami yang kerap runtuh
Enggan memilah puncak mana
Yang pertama akan ditempuh

Sudah berapa berat duka
Yang tak lagi bisa berbuat apa-apa    
Kami kian hari seakan kian
membunuh masa depan kami sendiri

Kami sudah tak begitu akrab
Dengan duka-dukamu
Maka bergegaslah kami,
Menuju segala ketiadaan itu
Kami berlarian, menembus segala
yang tak pernah kami temukan
Dalam sekelebat nyawa
Yang diam-diam kerap mengunjungi
duka-duka itu

Kendal, April 2018


Sumber: https://ideide.id/puisi-setia-naka-andrian-2.html

Senin, 23 Desember 2019

Puisi Setia Naka Andrian (Buletin Tanpa Batas, Agustus 2019)



Bunga yang Tumbuh dari Perahu
:fa

Bunga, kau mawar yang tumbuh
dari perahu-perahu. Seratus abad
lamanya aku menunggumu. Di tepi
mimpi yang mekar dari ujung telunjuk
yang pernah kau arahkan mengaliri
sepanjang garis telapak tanganmu.
Mengalir, mengalir, dan menganakpanah,
hingga sekarang, ketika kau tumbuh
dewasa.

Lihatlah bunga, jarimu telah menemukan
putaran roda dalam doa yang mengatasnamakan
mataku kepadamu. Sungguh, kau melampaui
kebaikan-kebaikan yang mengabadikan
peristiwa.

Bunga, tahukah kau, kini kau semacam
tanah airku. Sungguh, kau tiba-tiba menjadi
ruang angkasa. Apa lagi semenjak orang-orang
telah yakin jika tubuhmu terbuat dari pahala.
Setiap pagi, kau semakin tumbuh dari doa-doa
yang ramah mengatasnamakan manusia.
Sebagai umat yang memburu garis tangan,
yang belum tentu disepakati bersama-sama.

Sanggar Gema, Juli 2014


Takdir yang Mempertemukan Kita
:fa

Begitulah takdir, mempertemukan kita
dari perjalanan dan penghianatan-penghianatan.
Ia yang membawa kita menelusuri jejak dan
luka-luka. Ia yang mengajak kita berjabat cerita
dengan nasib dan kemanusiaan. Ia yang mengajari,
bagaimana kita menjadi hujan, angin, laut dan
berakhir menjadi malapetaka yang paling bijaksana.
Hingga kita tak sempat berburuk sangka.
Begitulah takdir, yang kelak akan menanyakan
kepada kita. Takdir menanyakan banyak hal
kepada kita. Di depan dada kita, dan kita tak
menjawab apa-apa, kecuali saling mencium kening
di antara kita. Lalu kita meletakkannya pelan-pelan,
tepat di bawah kaki ibu-ibu pejalan kaki yang selalu
menyebut-nyebut nama kita dalam setiap doa dan
ramalan buruk yang paling bijaksana.

Sanggar Gema, Juli 2014


Seberapa Perempuan Kau Mempercayaiku
:fa

Sayang, seberapa perempuan kau mempercayaiku.
Apakah kau sadar, jika saat ini telah tercipta jalan
layang di antara perasaan kita. Bahkan kita masih
begitu kuat untuk mengingat bagaimana cara lilin
menyalakan rindunya yang begitu panjang dalam
dada kita. Waktu itu, ketika kau dan aku masih
sempat mengumpat air mata tetangga kita. Ketika
kebahagiaan sedang malas bersuara kepada
kebencian yang masih selalu berpaling muka
dengan kerelaan.
Bayangkan saja, kaki dan tangan mereka
telah malas membaca matematika dan segala
teka-teki yang muncul setelah pesta kepergian.
Dan aku cukup heran, sedang kemarin, kita cukup
meragukan bagaimana panjang jabat tangan dan
suara yang sempat menyimpan pesan sepanjang
rumah. Lalu dada kita malas mendewasakan
barang sepenggal ciuman. Tentunya kau masih
ingat, bukankah kita juga ada karena berpuluh jam
menunggu saat rumah kita diselamatkan berkepung
doa yang tak tahu dari mana asal luapannya?

Bilik Kunang-kunang, Juli 2014


Perasaan yang Menjadi Dinding Rumah
:fa

Sayang, percayalah, kelak perasaan kita
akan menjadi dinding rumah yang paling
mekar setiap harinya. Lihatlah, dada kita
sudah mahir berjabat cerita. Udara yang
dikeluarkannya telah menjadi cahaya paling
ramah. Mengawali setiap ucapannya dari
persoalan-persoalan kecil yang sering
dilupakan orang-orang. Bahkan, kita selalu
berusaha menyelesaikannya dengan hanya
mengingat bagaimana kesedihan telah mahir
menipu kita.
Bayangkan saja, dada kita selalu berusaha
menahan bagaimana kecemasan yang selalu
mengawali keyakinan kita. Dada kita telah mahir
bagaimana membacakan doa dan bagaimana
mengutuk dosa. Dan sepertinya, mereka telah
menemukan jawaban dari beragam pertanyaan
yang dulu sempat kita perdebatkan. Saat itu, kau
tak begitu pandai menyembunyikan rahasia
seperti sekarang. Kau melakukan semuanya
kepadaku, termasuk kesedihanmu yang selalu
kau luapkan dengan rindu.

Bilik Kunang-kunang, Juli 2014


Jika Benar Kau Turun

Jika benar kau turun sebagai pedang,
maka doakan aku sebagai penjara.
Lalu bebaskan aku dengan pura-pura.
Namun jika kau turun sebagai kota,
berilah aku risalah mengenai sebuah
desa yang pernah kita telusuri bersama.
Ketika kita masih sama-sama mencari
tahu bagaimana perasaan orang-orang
yang membenci kenangan dan bagaimana
kebencian mengatasnamakan dirinya.
Kepada air mata orang-orang itu, dan
seberapa jauh kita menaruh penyesalan.
Sebagai kata terakhir yang pernah kita
ibaratkan bersama-sama pada sebuah
rumah yang saat itu sedang dipertaruhkan
dengan nama tuhannya masing-masing.

Sanggar Gema, Juli 2014




Minggu, 08 Desember 2019

Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 8 Desember 2019)




Menunggu Ujian

Aku bertanya kepadamu,
“Kau tidak takut dengan ujian?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kita tunggu saja di sini.”
“Ujian sedang di mana?”
"Di hari yang jauh sana
ujian sedang bersama banyak berita."

Lalu kita sepakat menunggu,
Mencoba tenang,
menyambut dengan matang

Tengadah tangan terbuka lebar
Mata berkedip dengan pelan
Sesekali kita bertatapan

Namun, ujian tak kunjung datang

"Kenapa lama ya?
Apakah ujian malas jalan kaki?"
--tanyaku kepadamu
"Tidak. Ia serupa sepeda."
"Berarti ia punya banyak roda?"
"Tidak. Ia memiliki sayap."
"Apakah ia sepeda bersayap?"
"Tidak. Ia tak suka terbang."

Ujian belum juga datang.
Kita masih setia menunggu.

Tengadah tangan kita masih terbuka lebar
Mata pun berkedip dengan pelan
Sesekali kita bertatapan

Dan tiba-tiba, dari ujung tikungan sana
banyak jawaban bermunculan
Datang seperti pasukan tanpa aba-aba,
Sontak mereka mengelilingi kita

Dan kita sama-sama kaget
--mata kita berkedip dengan kencang

Aku kemudian bertanya kepadamu,
"Bukankah kita menunggu ujian?"

Namun kau hanya diam
Kemudian, salah seorang jawaban
mendekat
Mulutnya nyaris menempel di telingaku,
Ia berbisik,
"Ujian kewalahan
menghadapi berita harian.
Ia sedang lelah dan malas
mengunjungi siapa-siapa.”

Kau masih saja diam
Hanya mata kita saja
yang masih saling bertatapan
Dan berkedip dengan sangat kencang

Seorang jawaban lain mendekat,
Ia berbisik di telingaku,
“Lekaslah pulang. Kau harus segera
mencipta banyak soal."

Leiden, November 2019


Tumbuh dari Mesin Waktu

Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Yang diciptakan dari debu
dan batu-batu

Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara orang-orang berpetualang
memungut diri mereka sendiri
yang tercecer di jalan-jalan

Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara produksi musim
yang telah menyayat
ratusan tahun yang beku

Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara kertas-kertas tua
yang bermekaran
di jalan-jalan tak berujung itu

Hari ini, aku seperti
tak lagi tumbuh
dari mesin waktu
Lalu aku menyangka,
segalanya hadir begitu saja
Namun ternyata,
Segalanya telah melumpuhkan
segenap sejarah
yang diam-diam mengakar di kepalaku

Leiden, November 2019