Senin, 24 September 2018

Nama-Nama yang Muncul dalam Prosa dan Puisi (Jawa Pos, 23 September 2018)



Nama-Nama yang Muncul dalam Prosa dan Puisi
Oleh Setia Naka Andrian



Judul Buku                : Perihal Nama
Penulis                         : Widyanuari Eko Putra
Penerbit                       : Kelab Buku Semarang
Cetakan                       : I, Mei 2018
Jumlah Halaman          : 170 halaman
ISBN                           : 978-602-6694-43-0

Pemberian nama dari orangtua kepada anaknya, kerap kali melewati pertimbangan panjang. Bahkan tidak jarang, terjadi perdebatan alot di antara kedua orangtua tersebut. Sebelum sepenuhnya menjatuhkan suatu nama kepada sang anak yang baru saja menghirup napas ke dunia. Terkait nama yang tidak bisa dikata sederhana tersebut, pun dibahas panjang lebar dalam buku Perihal Nama karya Widyanuari Eko Putra (Kelab Buku Semarang, 2018).
Buku yang dicap sebagai kumpulan enam esai seputar prosa, puisi, dan buku tersebut mencoba menggiring pembaca menyelami ketidaksederhanaan penamaan tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra, baik prosa maupun puisi. Nama-nama yang dihadirkan dalam karya kerap dipertimbangkan pengarang, bagaimana kesesuaiannya dengan cerita yang diusung.
Bagi Widyanuari, dalam esai berjudul Yang Tersembunyi di Balik Nama, bahwasanya nama tercipta sebagai konsekuensi atas pertimbangan-pertimbangan: ideologi, konteks zaman, kebersesuaian dengan tema cerita, hingga eksplorasi yang semata-mata demi capaian estetik atau efek tertentu. (hlm. 45).
Widyanuari memberikan perhatian serius terhadap kehadiran nama-nama dalam berderet karya sastra. Di antaranya, novel Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwe Dekker), Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, novel Tetralogi Buru garapan Pramoedya Ananta Toer, Para Priyayi karya Umar Kayam, Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo, hingga karya-karya terbaru Triyanto Triwikromo, Ritus, Anak-Anak Mengasah Pisau, dan Ular di Mangkuk Nabi.
Dalam kasus penamaan yang dilakukan Triyanto, misalnya, Widyanuari menangkap kecenderungannya menciptakan nama-nama yang khas, berkesan gaib, mistis, dan ajaib. Nama-nama tersebut, di antaranya Manyar, Kabrut, Blandrek, Abilawa, Ragaula, Rudrat, Natasja Korolenko, Nyonya Bangsa.
Meskipun, dalam esai judul serupa, Widyanuari menghadirkan pernyataan dari Seno Gumira Ajidarma, berikut, “Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekadar karena saya malas “mengarang”,”
Pada kasus tersebut, Seno memberikan pernyataan bahwa penamaan tokoh-tokohnya dalam cerita dibuat sekenanya saja. Tentu banyak kita dapati bagaimana Seno menggunakan nama Sukab dalam beberapa cerpen-cerpennya. Lain kasus ketika Seno menggarap novelnya Kitab Omong Kosong. Tokoh-tokoh pewayangan serupa Togog, Prabu Janaka, Hanuman, Rama, Sinta, dan lainnya dihadirkan begitu rupa dalam novel yang mendekonstruksi cerita wayang tersebut.
Selanjutnya, dalam esai berjudul Sebuah Nama, Sebuah Cerita, Widyanuari menyingkap maksud pencantuman nama dalam puisi. Penyair-penyair serupa Chairil Anwar, Afrizal Malna, Iman Budi Santosa, Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, Erich Langobelen, Alex R. Nainggolan, Nurul Ilmi El-Banna, Sengat Ibrahim, M. Noeris, dan lainnya.
Nama-nama dicantumkan secara khusus dalam puisi. Puisi ditujukan untuk seseorang, diberikan, dihadiahkan, atas rasa kagum, penghormatan, ketakziman, dan lainnya. Seperti gubahan puisi Chairil Anwar, di antaranya pada judul “Kenangan untuk Karinah Moordjono”, “Hampa kepada Sri”, “Kawanku dan Aku kepada L. K Bohang” dan lainnya.
Menurut temuan Widyanuari, nama-nama seakan diabadikan secara terang-terangan di dalam puisi. Kerap kali diletakkan di bawah judul, atau bahkan tak sedikit pula nama-nama tersebut dicantumkan menyatu dalam judul, “Kepada Penyair Bohang”. Ada kalanya nama-nama dicantumkan dengan inisial, “Lelaki Empat Penjuru Kepada ULP” karya Iman Budi Santosa untuk Umbu Landu Paranggi. Didapati pula puisi-puisi gubahan Joko Pinurbo, berjudul “Rumah Kontrakan untuk ulang tahun SDD”, “Memo Celana untuk Iqbal”, “Rumah Persinggahan untuk S.S.”.
Dalam kedua esai panjang Widyanuari tersebut, nama-nama memiliki keberadaan yang tidak biasa, baik dalam prosa maupun puisi. Nama-nama mendapuk peran tersendiri dalam sebuah karya sastra. Nama-nama yang bermakna dan tidak semena-mena dihadirkan dalam karya sastra, serta nama-nama yang diberi kehormatan tersendiri saat dicantumkan dalam sebuah puisi.
Keempat esai berikutnya dicatat Widyanuari dengan tidak sepanjang esai pertama dan kedua. Judul esai Tidak Ada Jassin hari Ini, Upaya Menulis Ulang dan Menafsir, Menjelajahi Parodi ala martin, dan Pengorbanan Membaca Buku, seakan menjadi anak-anak yang berusia pendek. Meski, napas yang ditiupkan Widyanuari kepada esai-esai tersebut tetap sama. Hanya saja, pembaca barangkali akan merasa terganggu. Pengisahan nama-nama seakan kian memendek dan memudar.***

─Setia Naka Andrian, Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).

1 komentar:

Barracuda Essence mengatakan...

thanks for sharing,.