Minggu, 26 November 2017

Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 26 November 2017)




Menulismu Adalah

menulismu adalah
puisi di dalam lekuk pipi
yang tiba sesaat
selepas aku malu-malu
berselancar lemas
di atas telapak tanganmu

menulismu adalah
meneguk anggur
saat dunia sedang sibuk
memilih bercuriga
kepada kamu
kepada siapa saja
yang kerap urung bertemu

menulismu adalah
menyibak cahaya
yang kerap melarikan diri
dari balik jendela rumah
dari balik dada
yang melambatkan degubnya

menulismu adalah
tanda tanya
yang tak sempat
dikirimkan
sebagai pesan dan janji
yang tak pernah kunjung matang

menulismu adalah
kalimat pertama
yang sering kita lupakan bersama
sebelum memulai merapal tanya
mana luka
mana duka
mana binar matamu
yang sederhana

Kendal, November 2017


Aku Pesan Namamu

aku pesan namamu
dalam secangkir kopi
selepas adzan tak lagi bunyi
selepas kehilangan
tiada pernah dibaca lagi

aku pesan senyummu
dalam sekental rindu
selepas segalanya
urung mengetuk pintu
lupa datang di pagi-pagi

aku pesan namamu
dalam segelas teh pahit
dalam keheningan
yang diciptakan
dari gelagat matamu
yang tak lagi wajar
mengunjungi sunyi-sunyi

aku pesan namamu
saat semua orang tahu
jika aku adalah kegagalan itu
yang memilih pulang
untuk menemukan
nama-nama baru
selain dari nama-namamu

Kendal, November 2017


Jumat, 17 November 2017

Masyarakat Penerima dan Penyebar Saja (Wawasan, 16 November 2017)

Masyarakat Penerima dan Penyebar Saja
Oleh Setia Naka Andrian

Gerak kemajuan teknologi informasi seakan tak sebanding dengan jagat nalar masyarakat kita. Kini segala sesuatu dapat dengan mudah diterima dan betapa entengnya disebarkan begitu saja, kapan saja, di mana saja. Setiap detik, kita seakan kerap dibanjiri informasi yang tak lagi mampu terbendung. Hadir melalui beragam aplikasi media sosial di gawai dalam genggaman tangan kita.
Sungguh tak terbayangkan lagi, apa jadinya jika kita menjadi masyarakat yang begitu saja berterima atas informasi massal yang setiap detiknya menggedor ponsel kita. Kemudian kita tergoda untuk bergegas menyebarluaskannya, disalin dan disebar dengan menugaskan kepada ibu jari semata. Maka sudah, ratusan bahkan ribuan atau jutaan orang akan menerima informasi itu. Selanjutnya disebarkan lagi, lagi dan lagi oleh si penerima informasi itu. Kita seakan begitu saja lengah dengan godaan pahala jika turut serta menjadi penyebar informasi yang (masih) dianggap sangat bermanfaat itu.
Dengan dalih, apa salahnya jika turut membantu penyebaran informasi itu. Tidak memakan waktu, tidak memakan pulsa mahal, hanya dengan menekan tidak lebih dari tiga kali ketukan di layar sentuh ponsel pintar kita. Tentu akan beda dengan apa yang telah dilakukan oleh generasi pengguna telepon genggam saat masih berfungsi hanya untuk mengirim pesan singkat atau melakukan panggilan suara.
Kala itu, tentu dengan sangat pelan, santun, hati-hati, dan penuh perhitungan ketika hendak mengirim pesan singkat. Bahkan batasan karakter yang menentukan tingkat kemahalan pemakaian pulsa pun turut diperhitungkan. Dari hal itu, entah sadar atau tidak, kita seakan dipaksa agar menjadi para pengguna alat seadanya, seperlunya, tidak cerewet, dan tidak menjadi seseorang yang ketergantungan telepon genggam.
Ketika itu, belum didapati tradisi salin-menyalin dan tempel menempel menyebar informasi yang belum fasih kebenarannya. Belum ada pula penyebaran pengisahan-pengisahan yang tak menentu tuannya. Bahkan, belum kita dapati orang-orang yang seakan begitu mudah menjadi pendakwah, yang kerap kita temukan dalam berbagai grup di berbagai aplikasi di ponsel pintar kita.

Kembali ke Masa Silam
Tradisi yang kita alami melalui ponsel pintar saat ini, seakan menggiring kita untuk kembali pada masa silam yang telah jauh terlewatkan. Pada zaman ketika kita masih mengamini penyebaran-penyebaran kisah, cerita, informasi, atau segala apa pun tanpa mengenal siapa yang menuliskan atau menciptakannya. Kita kenali dengan karya cipta dari NN. Jika ada sesuatu yang bermasalah dari apa yang kita sebarkan, maka akan segera bilang, “Itu bukan saya yang membuat, saya sekadar menyebar saja, menyalin dari grub sebelah!” Beres, merasa aman dan lari dari tanggung jawab!
Namun bagaimana lagi. Kini ponsel pintar telah begitu melekat di genggaman kita. Siapa pun seseorang itu, ketika nampak dalam sebuah pertemuan khalayak ramai, di ruang publik, saat menunggu angkutan, saat menunggu jadwal penerbangan, bahkan saat berpose untuk mengabadikan momen yang (dianggap) istimewa dalam hidup, selalu nampak mentereng dengan genggaman ponsel pintar yang tentu dengan harga tak murah. Lengkap dengan ragam aplikasi yang menggairahkan dan menggoda untuk selalu disentuh.
Sudah sangat jarang, bahkan semakin tiada lagi orang-orang menyentuh buku-buku, koran, atau majalah ketika menghabisi waktu tunggu. Bahkan di sudut-sudut kampus atau di segenap lembaga pendidikan sekalipun. Jarang kita temukan seseorang berkhusyuk menyibak berlembar-lembar kertas bacaan di pangkuannya. Seakan sudah tak terelakkan lagi, kita lebih memilih memenuhi kuota (pulsa) internet dari pada memasukkan judul-judul buku atau berlangganan media massa dalam daftar belanja bulanan.
Upaya pemenuhan nutrisi berliterasi seseorang seakan telah sangat cukup hanya dengan bersentuhan dan menggeser berjubel tawaran informasi yang menggoda di layar ponsel pintarnya. Sudah tentu, tidak sedikit kita temukan tawaran-tawaran itu sebatas informasi yang terpenggal-penggal. Masih dalam permukaan dan sangat perlu ditimbang lagi kedalamannya.
Untuk kali kesekian, kita akan kerap mengamini untuk tidak sanggup mengelak. Bahwa ponsel pintar seakan sudah terlanjur begitu lekat di genggaman tangan. Tiada lagi jarak antara ponsel dan tubuh kita. Seakan tiada pula upaya yang mampu menuntun kita untuk lebih ketat dalam menyaring segala sesuatu yang menggedor pintu ponsel pintar kita. Memilah segenap informasi yang kerap mengguyur dalam setiap detiknya. Kita begitu lemas, kekenyangan, kebingungan, seakan dibuat tak kuasa berkilah apa-apa.

Manusia Gemar Bercuriga
Lebih-lebih saat ini, telah begitu marak grup-grup diciptakan di berbagai aplikasi di ponsel pintar kita. Dari mulai grup alumni sekolah, komunitas, teman kerja, hingga grup warga, yang kerap kali memicu timbulnya persoalan-persoalan baru. Padahal yang sudah seharusnya, grup yang diciptakan melalui beberapa aplikasi dalam ponsel pintar kita menjadi ajang silaturahmi dan bertegur sapa. Namun naga-naganya, segala itu justru semakin memicu kita untuk semakin lebih bertaring untuk berpendapat, menghujat, mengumbar, dan bahkan menebar kebencian-kebencian. Kita seakan selalu dibuat belum usai membersihkan prasangka terhadap sesama, dalam ruang-ruang media sosial kita.
Disadari atau tidak, kini kita seakan semakin berterima menjadi manusia yang lebih gemar bercuriga daripada berpositif pandang terhadap sesama. Segala sesuatu dengan mudahnya menjadi nyinyir batin, begitu sensitif, bahkan membuat kita semakin bersumbu pendek atas segala yang nampak atau hadir di hadapan kita, dalam layar grup di ponsel kita. Entah terkait kebahagiaan, kesuksesan, atau bahkan kegagalan yang sedang melanda sesama kita.
Tentu, segala itu contoh sederhana dari muara kemalasan kita untuk menekuri menjadi masyarakat pencipta. Bukan semata menjadi generasi penerima dan penyebar saja. Generasi yang sibuk menyuntuki banyak hal yang diterima dan kemudian disebarkan begitu saja, tanpa berupaya untuk menjadi generasi pencipta dan kemudian menyebarkan gagasan/ide-idenya. Dan, sepertinya kita sebagai generasi yang (merasa) lebih dewasa, mengemban pekerjaan rumah yang tidak enteng. Jika keseharian kita saja masih terasa diperbudak alat, lalu bagaimana dengan nasib dan masa depan jagat nalar generasi di bawah kita?***

Minggu, 12 November 2017

Puisi Setia Naka Andrian (Media Indonesia, 12 November 2017)


Perintah Demang Kalang

Telunjuk tanganmu,
Tak sebatas peringatan bagi kami
yang diam
Demang ini, yang mengutus
anak buah terpilihnya
untuk menyibak hutan

Mereka menyebut diri
dengan bubak yoso
Telunjuknya menuju Coyudo
Kakinya seakan lihai
menggelinding sendiri
Membuka areal pemukiman
di wilayah Gemuh sebelah barat

Coyudo inilah tokoh kami
yang mengawali
dukuh Wanglu Krajan
melahirkan diri di Poncorejo

Lambat laun, selepas
Coyudo mampu
melaksanakan tugas mulia
mencetak kampung,

ia membawa keluarga
dan sanak saudaranya
untuk tinggal dan menempati
muara hidup kami

Kami memulai suara baru,
mencipta kepantasan berkali-kali
Menimbun keganasan bertubi-tubi

Kendal, Juli 2017


Rumah Tak Berwujud

Sebagai rumah,
kami memilih
untuk tinggal di tengah

Sebagai tanah,
kami memilih
untuk sesekali dalam tengadah

Sebagai air,
kami kerap memilih
tinggal di rumah lain
Yang sama sekali

Sebagai wujud,
Kepada siapa
yang paling pantas
untuk kelalaian kami?

Kendal, Juli 2017


Berapa Meter Angkat Kaki

Sudah berapa meter
kau angkat kaki, Kalang
Lihatlah, Wanglu Krajan
telah bekerja
di kota besar itu
kau nampak seperti api
Jakarta semacam kabut
Yang menyambar
kening-keningmu

Sudah berapa meter
kau angkat kaki, Kalang
Lihatlah, Wanglu Krajan
telah pandai menciptakan
orang-orang baru

Para pekerja membabi-buta
Lihatlah mata mereka, Kalang
Dari nyalanya,
nampak para prajurit
Berkejaran dengan bayangannya
Hingga menjelang
masa akhir tugasnya
Mereka menemukan
pasangan hidup
Dari tepi
bayangannya sendiri

Sudah berapa meter
kau angkat kaki, Kalang
Lihatlah, Wanglu Krajan
telah menjadi orang tua
Mereka tiada lagi dapat
mempertahankan perkawinan
yang kini dikatakan kuno

Sudah berapa meter
kau angkat kaki, Kalang
Lihatlah, Wanglu Krajan
telah mengubah perkawinan
endogami menjadi eksogami

Lihatlah Kalang,
Perjodohan anak-anakmu pun
mengikuti arus perubahan zaman
seperti masyarakat desa-desa lain
Yang kian meninggalkan
muara-muaramu

Kendal, Juli 2017


Ajari Kami Menjadi Beban

Kalang, ajari kami menjadi beban
Tujuan yang bukan pilihan
banyak orang

Kalang, ajari kami menjadi beban
Dunia yang tak dikehendaki
banyak orang

Kalang, ajari kami menjadi beban
Alam pikiran yang tak dipikirkan
banyak orang

Kalang, ajari kami menjadi beban
Seperti yang kau haturkan
Untuk kekekalanmu sendiri

Kalang, ajari kami menjadi beban
Menjadi surga kecil
Menjadi belantara hening
Yang sanggup mengurusi kami
Sebab berhari-hari ini,
lelap telah melanda batin-batin kami

Kendal, Juli 2017


Mesin Penghancur

Kaulah mesin penghancur itu,
Yang mengajarkan kami
Semakin jauh
Meninggalkan banyak jejak
di sekitar rumah-rumahmu

Kaulah mesin penghancur itu,
Yang menjadikan kami
Semakin ragu
Untuk menjawab
Permintaan-permintaanmu

Kaulah mesin penghancur itu,
Yang menuntun kami
Semakin menemukan cara baik
Untuk mengejar banyak wirid
Yang tak pernah kau kehendaki

Kendal, Juli 2017


Jadikan Kami Muridmu

Wanglu Krajan,
Jadikan kami murid-muridmu
Jadikan kami abdi
bagi amalan guru-guru

Wanglu Krajan,
Jadikan kami murid-muridmu
Turunkanlah kepada kami
Kepada kepala-kepala kami
Yang telah lama
Menjadi abdi
bagi benak kami sendiri

Wanglu Krajan,
Jadikan kami murid-muridmu
Bangunkanlah rumah lain
di tubuh kami
Agar alam tak pernah redup
Untuk tak sekalipun
Mengubah arah kemudi
dari segenap petunjuk-petunjukmu

Kendal, Juli 2017



Jumat, 10 November 2017

Meraba Puisi dalam Kumpulan Cerpen (Derap Guru, Oktober 2017)

Meraba Puisi dalam Kumpulan Cerpen
Oleh Setia Naka Andrian

Judul Buku                : Kolektor Mitos
Penulis                         : Halim Bahriz
Penerbit                       : Langgam Pustaka
Cetakan                       : Januari 2017
Jumlah Halaman          : viii + 110 halaman
ISBN                           : 978-602-60094-3-2

Dewasa ini tentu tidak sedikit cerita-cerita yang bermunculan ditulis oleh penyair, baik dipublikasikan dalam media massa maupun media lainnya. Tidak sedikit pula dijumpai cerita-cerita tersebut dengan ciri khas aroma syair. Narasi-narasi yang terbentuk, pengisahan suatu cerita atau kejadiannya, deskripsi suatu kejadian atau peristiwa dalam ceritanya, bahkan tema dan judulnya sangat lekat dengan puisi.
Tidak ada yang salah, baik puisi yang menyerupai prosa ataupun prosa yang menyerupai puisi. Namun, setidaknya keduanya harus memiliki batasan-batasan yang dapat dipercayai, paling tidak oleh pembaca. Penulis haruslah mampu meyakinkan pembaca, bahwasanya yang ditulis itu puisi, atau cerpen.
Fenomena tersebut agaknya dapat dijumpai dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos karya Halim Bahriz (Langgam Pustaka, Januari 2017), yang setidaknya selain menulis cerpen, ia juga kerap menyandang gelar penyair, dan tak sedikit ia dinobatkan sebagai juara dalam ajang lomba penciptaan puisi.
Halim begitu kental menyuguhkan kehadiran puisi-puisinya dalam cerpen. Bangunan narasi dan pengisahannya begitu kental ia tanami puisi-puisi. Entah, apakah ketika menulis cerita ia begitu kesulitan meninggalkan puisi. Atau ketika menulis cerita ia bersanding dengan puisi-puisinya, lalu ia comoti mana yang bisa ditaburkan dalam cerita yang sedang dibuatnya.
Dalam cerpen Sebuah Makam dalam Cahaya, misalnya. Halim seakan terlihat sangat berambisi menghadirkan cerita yang sangat puisi. Mereka terlalu banyak: Jilan dikeroyok. Ia mulai merasakan tubuhnya semakin jauh. Ia dan tubuhnya saling melepas, menuju keharuan yang tak perlu, dadanya disesaki kata yang tak mampu diucapkan lagi, “Tidak! Tidak! Kenapa bahasa tak lagi mencukupi untuk menyatakan aku saja?!... (hlm. 2).
Tentu menjadi kebaikan tersendiri jika pengisahan-pengisahan bernada puisi telah bertabur erat dalam cerita. Kata-kata puitik hadir dan singgah dalam sebuah bangunan narasi yang memadahi. Sehingga, akan menjadikan cerpen memiliki ruang pembacaan yang berlapis. Selain harus menyibak segala sesuatu dalam bangunan kisah, pembaca juga harus berkerut-kening dengan kode-kode yang begitu puitik itu.
Pada persoalan ini, Halim pun memiliki tugas keras dalam menghadirkan sandi-sandi narasinya. Jangan sampai, beragam kode atau sandi-sandi yang digulirkannya menjadi semacam kode rahasia yang tak terjangkau pembaca (gelap). Halim pastinya harus sudah sanggup mempertimbangkannya, karena yang ia garap adalah cerita.
Jangan sampai kehadiran narasi-narasi puitik yang dihadirkan justru menjadi bumerang. Nilai hakiki sebuah cerita yang dihadirkan tak mampu ditembus oleh pembaca. Meminjam apa yang sempat disampaikan Agus Noor dalam sebuah forum diskusi, “kenapa harus dikisahkan dengan rumit dan dengan teknik yang berjungkir-balik, jika dengan pengisahan sederhana saja cerita sudah memikat?”
Hal itu dapat menjadi pijakan, bahwa kisah yang sudah bagus, pasti sudah memiliki tempat di hadapan pembaca, sudah memiliki daya pikat. Maka, pengisahan yang rumit atau cerita yang menggunakan teknik berjungkir-balik, hanya untuk kisah-kisah yang biasa-biasa saja. Agar kisah itu memiliki daya pikat di hadapan pembaca.
Dalam cerpen berjudul Mutan, nampak pula Halim membuka cerpennya dengan sangat puisi. Jingga tipis dari senja melapisi tembok kaca. Seperti mengecat cahaya dengan kesementaraan yang berulang. Ben, sedang berbicara mengenai post-modern, sedikit-sedikit, mirip roh kata-kata yang tersedak; momen tengil antara ketiadaan waktu dan ruang yang kembali bernapas. (hlm. 64).
Dari penggalan itu, nampak seperti apa kehadiran puisi dalam cerpen Halim. Pembaca diajak mengembara, diberi tugas dan beban berat untuk memecah sandi-sandi yang ia ciptakan. Hanya saja, ada kalanya hingga akhir cerita pembaca masih kesulitan untuk memecahkan sandinya.
Walaupun begitu, cerpen-cerpen lain dalam kumpulan cerpen ini, Halim kerap kali berhasil dalam membawakan kisah-kisahnya. Halim sesunggungnya telah sanggup menghadirkan kisah memikat dalam narasi-narasi sederhananya. Dalam Lelampak Lendong Kao, misalnya. Halim begitu rupa menghadirkan persoalan kemanusiaan, rasa syukur, ketabahan, keimanan, dan penghambaan kepada Tuhan.***

Senin, 14 Agustus 2017

Sastra Lokal dan Kebinekaan (Wawasan, 11 Agustus 2017)

Sastra Lokal dan Kebinekaan
Oleh Setia Naka Andrian

Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi II) 2017 telah terselenggara pada 18 hingga 20 Juli di Hotel Mercure Ancol Jakarta. Ini kali kedua perhelatan yang diselenggarakan Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, selepas Munsi pertama pada tahun lalu.
Jika tahun lalu peserta Munsi dipilih berdasarkan rekomendasi tiap-tiap daerah bagi para pegiat sastra, kali ini peserta yang diundang Munsi lebih diperketat lagi. Yakni di antaranya melalui seleksi buku (karya) yang dikirimkan kepada panitia, kemudian diseleksi oleh dewan kurator. Selain itu, undangan peserta Munsi dari para alumni Munsi I yang telah turut serta dalam penulisan antologi puisi Munsi I tahun 2016. Selanjutnya, undangan Munsi kategori yang ketiga berasal dari para budayawan, pemerhati, dan pakar sastra yang berkompeten.
Perhelatan Munsi II ini tentu telah menjadi sebuah pertemuan yang menghantarkan para sastrawan Indonesia dalam perbincangan hangat. Yakni menyibak Kebinekaan Indonesia yang saat-saat ini kerap didengungkan dalam berbagai gerak perbincangan dan laku, baik di kalangan akademisi, pemerintah, komunitas seni budaya, hingga masyarakat luas. Mengingat berbagai persoalan dinilai kian menjadi-jadi, berupaya menggoyahkan kebinekaan Indonesia.
Dalam sebuah perbincangan yang disampaikan Radhar Panca Dahana, ia menegaskan bahwasanya karya sastra Indonesia tentu sudah sangat mencerminkan kebinekaan Indonesia jika kita semua mau menengok dan kembali pada karya-karya sastra lokal. Bahkan, dunia pun akan tergeleng-geleng melihat karya sastra kita. Jika kita tengok, berapa provinsi yang ada di Indonesia ini, kemudian berapa kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, bahkan berapa kampung yang melingkupinya.
Jika karya sastra lokal dari segenap titik daerah itu kita garap, setiap tahunnya akan bermunculan berapa karya sastra di Indonesia ini? Segala ini akan bergulir sehat jika para sastrawan tergerak untuk lebih memperhatikan dan berupaya sekuat tenaga untuk mengangkat sastra lokal tersebut.
Setidaknya, melalui garapan sastra lokal tersebut dapat menjadi bahan pijakan untuk pembelajaran sastra kita. Sudah tentu, suntikan Kebinekaan Indonesia kepada anak didik di sekolah sebagai sebagai sebuah ikhtiar tercapainya pendidikan karakter bagi generasi penerus bangsa dapat dilalui dengan guyuran karya-karya sastra lokal.
Pada Munsi II ini pun, didapati perbincangan mengenai Sastrawan Masuk Sekolah, dengan tujuan akan terjadi gerak sinergi antara guru bahasa Indonesia dan sastrawan lokal dalam pencapaian gerak pembelajaran sastra yang lebih berdaya guna. Selain itu, sekiranya para sastrawan lokal juga dapat membantu mengaktualisasikan proses kreatifnya kepada siswa, terutama terkait sastra lokal yang hendak atau sedang digarap dan ditekuninya.
Sudah tentu ini terkesan bukan sebagai kerja yang mudah, tidak seenteng membalikkan telapak tangan atau mengubah posisi belahan rambut. Namun, segala ini tentu dapat dilakukan perlahan. Dengan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak terkait, kepedulian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentunya, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, serta kesadaran kolektif dari berbagai pihak lain, termasuk bagi para sastrawan lokal. Kenapa perlu dicanagkan program Sastrawan Masuk Sekolah?
Selama ini, tidak sedikit telah dikeluhkan bahwa guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kerap melewati (melompati) materi kesastraan dalam pembelajarannya. Jika tidak melewati (melompati), mereka sampaikan dengan seadanya dan sesampainya, atau seingat-ingatnya saja, apa yang masih nyangkut dalam sisa-sisa ingatan masa kuliah.
Apalagi dulu pada masa kuliah hanya didapat di kelas saja, itupun dosennya kerap izin tidak masuk kelas, ditambah lagi tidak ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) sastra, tidak pernah menghadiri acara atau diskusi-diskusi sastra, buku-buku sastra juga hanya koleksi yang diwajibkan dari dosen mata kuliah itu semata. Lalu pengalaman kesastraan dari mana yang dikantongi?
Entahlah, dengan alasan apa pun, tentu segala itu sangat tidak bisa dimaafkan. Dosa besar bagi dunia pengajaran! Dosa turun-temurun yang tiada pernah terampuni! Sudah menjadi rahasia umum, tidak jarang didapati kasus itu, guru melompati materi sastra dalam mengajar di kelas.
Padahal sudah sangat jelas, anak didik sangat perlu disuntik sastra. Bahkan sudah menjadi keharusan bagi negara-negara maju, bahwa bacaan-bacaan sastra wajib dikonsumsi semua siswa, semua mahasiswa dalam bidang ilmu apa pun. Setiap tahun diharuskan mengkhatamkan sekian puluh judul buku sastra.
Nah jika di Indonesia ini bagaimana? Jangankan semua siswa atau mahasiswa semua bidang ilmu, bagi yang jelas-jelas menekuni sastra saja, berapa buku sastra yang diwajibkan untuk ditelan setiap tahunnya? Sudahkah kampus-kampus yang ditangkringi program studi kesastraan memberlakukan aturan itu dengan ketat dan tegas?
Mustahil kita berteriak-teriak, mendengung-dengungkan kebinekaan, toleransi, dan seabrek kemuliaan-kemuliaan berkehidupan. Kita paham, tanpa sastra, sudah tentu hidup ini akan menjadi kaku. Akan semakin sering kita temui generasi penerus bangsa yang kehilangan roh spiritual, moral, dan jiwa nasionalisme. Akan sering pula kita temukan orang-orang yang memiliki sumbu pendek, mudah menyalahkan orang lain yang tidak memiliki kesamaan dengan dirinya.
Bahkan, akan mudah mengkafirkan kaum lain yang katanya tidak sesuai dengan keyakinannya. Begitu panjangnya pekerjaan rumah kita. Lalu hendak kita mulai dari mana? Tentu, yang paling sederhana adalah jawaban klise yang begitu menggedor telinga kita, dimulai dari diri kita sendiri. Dimulai dari kesadaran kolektif berbagai pihak yang telah tersebut sebelumnya tadi.***


─Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Peserta Munas Sastrawan Nasional (MUNSI II) 2017. Bukunya yang telah terbit, kumpulan puisi “Perayaan Laut” (April, 2016) dan bunga rampai “Remang-Remang Kontemplasi” (November, 2016). Tahun ini akan menerbitkan beberapa buku puisi, di antaranya “Manusia Alarm” dan “Orang-Orang Kalang”.

Selasa, 08 Agustus 2017

Catatan Harian Seorang Bapak 'Nakal' (Derap Guru. Agustus 2017)

Catatan Harian Seorang Bapak ‘Nakal’
Oleh Setia Naka Andrian

Judul Buku         : “Bapak Nakaaal...!”
Penyusun            : Budi Maryono
Penerbit              : Gigih Pustaka Mandiri
Cetakan              : I, April 2017
Tebal                  : xiv + 376 halaman
ISBN                  : 978-602-1220-14-6

Di era seperti sekarang ini, tentu masyarakat kita telah begitu asing dengan catatan harian. Diary (buku harian) seakan telah menjauh dari benak, ingatan, dan imaji seseorang. Buku harian yang dulu berwujud kecil-mungil dan selalu dibawa ke mana pun seseorang pergi, kini tak tersentuh, tak menjadi bagian dari aktivitas keseharian lagi.
Seseorang seperti sudah tidak lagi punya waktu untuk mencatat segala yang dialami, dijalani, dan berkesan setiap harinya. Seseorang sudah terlanjur disibukkan dengan seabrek rutinitas dan pekerjaannya masing-masing. Sibuk menyuntuki gawai canggihnya untuk berkomentar dalam group-group media sosial saat menunggu bus di halte, menunggu keberangkatan kereta, atau menanti jadwal penerbangan di bandara.
Meski sesungguhnya tak pelak lagi, setiap diri tentu butuh mengabadikan momen bermakna, memanjangkan ingatan dari kejadian yang berkesan, baik momen personal atau peristiwa lain bersama sahabat, pasangan, komunitas, atau keluarga.
Budi Maryono dalam bukunya “Bapak Nakaaal...!” (Gigih Pustaka Mandiri, April 2017) seakan mengajak dan mengingatkan kembali kepada khalayak ramai, betapa catatan harian perlu dikerjakan lagi. Buku yang cukup tebal tersebut berisi catatan dari kisah penulis bersama keluarganya dalam berlaku hidup di rumah, bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara. Bertitimangsa 2010-2014, tiap tahun terdiri dari berbagai judul yang telah berurutan kapan peristiwa terjadi dan kapan catatan dituliskan.
Budi Maryono seakan berikhtiar mencipta sejarah kehidupan bagi keluarga, bagi seorang istri dan ketiga anaknya. Catatan-catatan ditulis dengan pengisahan sederhana, mudah dipahami dan tidak panjang, rata-rata berkisar dua hingga tiga halaman. Nampak jelas, penulis prosa Di Kereta Kita Selingkuh (2008) ini hendak menyasar para pembaca yang lebih luas, tidak hanya para penyuka sastra semata, namun ia tujukan untuk keluarga Indonesia.
Kejadian-kejadian sederhana dan syarat tak terduga di benak pembaca dihadirkannya dalam buku ini. Dari mulai kisah keluarga penyayang kucing, persoalan pengasuhan anak, penanaman akhlak dan moral bagi anak, memerdekakan anak dalam menentukan masa depannya, hingga perihal laku keluarga dalam beragama.
Rencana semula berdua saja tapi kemudian berubah pikiran dan kami sepakat untuk iktikaf serumah. Kemarin, Jumat 17 Agustus, kami pun berangkat dengan taksi sekitar pukul sepuluh malam. (Ketika Lebaran di Depan Mata, hlm. 179). Kisah Budi Maryono bersama istri dan anak-anaknya menjalani iktikaf berjamaan di Masjid Baiturrahman Semarang pada malam 29 Ramadan. Tengah malam hingga pukul tiga pagi, mereka memilih baitullah ketimbang baitulmall ketika lebaran sudah di depan mata.
Budi Maryono, dalam buku ini menyuguhkan kisah-kisah berbentuk prosa pendek yang bersumber dari kenyataan hidupnya. Kisah-kisah mengalir dengan nada tak menggurui, walaupun terkadang kerap didapati nasihat yang ia sampaikan kepada anak-anaknya melalui dialog dalam kisahnya. Ia memposisikan diri sebagai “bapak” pencatat. Lebih banyak menyibak momen istri dan anak-anaknya, baik di dalam maupun di luar rumah. Namun, ia tetap menjadi bapak ‘nakal’ dalam menyutradarai jagat keluarganya.
Hanya saja, ada bagian-bagian kisah yang seakan menjenuhkan pembaca. Ketika Budi Maryono tak sedikit menghadirkan kisah-kisah momen ulang tahun yang berulang setiap tahunnya. Anggota keluarganya berjumlah lima, berapa kali dalam setiap tahun kisah itu berulang? Belum lagi, ulang tahun pernikahannya pun kerap dikisahkannya pula. Meskipun ceritanya tercatat berbeda-beda, namun jika dengan momen sama, tentu tetap saja akan mengganggu mata pembaca.***



─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Menulis buku “Perayaan Laut” (April 2016) dan Remang-Remang Kontemplasi (November 2016).